Di Kepung Kabut Asap, Kepala Desa di Batanghari Malah Akan Pergi ke Luar Daerah
![]() |
| Ilustrasi |
Di Kepung Kabut Asap, Kepala Desa di Batanghari Malah Akan Pergi ke Luar
Daerah
BATANGHARI
— Di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah
Kabupaten Batanghari akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), muncul
sorotan terhadap rencana keberangkatan sejumlah kepala desa ke luar daerah.
Informasi
yang beredar, kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 7 hingga 10
September 2026 di Kota Bandung, Jawa Barat. Agenda itu disebut melibatkan para
kepala desa dan dikaitkan dengan kegiatan retreat serta agenda di Rindam
III/Siliwangi.
Rencana
keberangkatan tersebut menjadi perhatian karena berlangsung di tengah kondisi
masyarakat Batanghari yang masih menghadapi persoalan kualitas udara akibat
kabut asap. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat terganggu dan menimbulkan
kekhawatiran, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta
masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan.
Pertanyaan
pun muncul: sejauh mana urgensi keberangkatan para kepala desa tersebut di
tengah kondisi daerah yang sedang membutuhkan perhatian?
Kepala
desa memiliki posisi strategis di tengah masyarakat. Ketika kondisi lingkungan
sedang tidak normal akibat bencana karhutla dan kabut asap, keberadaan
pemerintah desa tentu diharapkan tetap maksimal dalam memantau kondisi
warganya, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, serta memastikan langkah
penanganan dapat berjalan di tingkat desa.
Bukan
persoalan boleh atau tidaknya seorang kepala desa mengikuti kegiatan di luar
daerah. Namun, yang menjadi sorotan adalah momentum dan prioritasnya.
Jika agenda
tersebut memang merupakan kegiatan resmi dan memiliki dasar penugasan yang
jelas, tentunya masyarakat berhak mendapatkan penjelasan secara terbuka
mengenai tujuan, manfaat, sumber pembiayaan, serta siapa saja peserta yang
diberangkatkan.
Apalagi
jika keberangkatan menggunakan anggaran pemerintah, transparansi menjadi hal
penting agar tidak menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Di satu
sisi, masyarakat Batanghari sedang berhadapan dengan kabut asap. Di sisi lain,
para kepala desa disebut akan meninggalkan daerah selama beberapa hari untuk
mengikuti kegiatan di luar provinsi.
Publik
kini menunggu kejelasan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. Apakah
keberangkatan tersebut merupakan agenda prioritas yang wajib dilaksanakan, atau
masih dapat ditunda hingga kondisi kabut asap di Batanghari kembali membaik?
Pertanyaan
tersebut penting dijawab secara terbuka, agar tidak muncul kesan bahwa ketika
masyarakat sedang menghadapi persoalan, pemerintah justru sibuk dengan agenda
di luar daerah.
